Diary Mas Ganteng

Coretan kali ini terinspirasi dari cerita gue yang (katanya) paling fenomenal dan ngehits yang nyeritain empat makhluk jomblo yang sering main bareng. Tapi cerita ini bukan tentang empat orang homo tadi, melainkan cuma cerita tentang makhluk tuhan yang paling sexy, tidak lain tidak bukan Mas Ganteng lah orangnya.

Mas Ganteng adalah tipe cowok alphamale yang mana dimanapun dia berada pasti dia akan menjadi pusat dari perhatian dan semua mata di dunia akan tertuju padanya. Setidaknya mungkin itu yang dia pikirkan, Mas Ganteng lahir dengan komposisi kegantengan dan kesexy-an abnormal yang ditemukan di cowo, mungkin kala itu tuhan lagi iseng dan pengen bikin mahakarya makhluk yang tujuannya adalah untuk menguji iman para gadis yang melihatnya…

Mungkin dia juga ujian dalam hal lainnya juga.

Anyway untuk coretan gue kali ini, gue bakal nyoba sebisa mungkin untuk melihat dunia dari perspektif dirinya, dengan sedikit sentuhan sana-sini yang tentunya jadi menarik untuk dibahas secara tajam, setajam Silet.. Oke.Skip.

Kita mulai aja ceritanya.. *Ahem*

Matahari pagi menyambutku dengan cahaya kasihnya lagi, aku pun terbangun dan mematikan alarm handphone yang sebetulnya telah kusetting untuk menyala berjam-jam yang lalu, kuambil wafer dan makanan manis dalam toples yang memang sengaja kusiapkan untuk pengganjal perut sebelum kuliah, akupun mengunyah wafer dengan perlahan karena memang tubuhku sensitif terhadap rangsangan dan cuaca dapat dengan mudah membuatku sakit, walaupun kebanyakan waktu wafer itu dihabiskan oleh temanku, beruntung hari ini dia tidak ada jadi makanannya masih bersisa.

Aku pun berjalan mengambil baju dan persiapan untuk mandi menyongsong hari itu, sembari membuka lemari aku melihat kaca dan agak memicingkan mata karena kacamata belum kupakai dan didepanku terlihat samar-samar wajahku, “Gila gue ganteng banget” begitu kataku dalam hati seraya mengambil langkah menuju kamar mandi.

Produk-produk yang kupakai untuk ritual mandi pun serasa berseri, mungkin lima sepuluh tahun dari sekarang produsen alat-alat mandi ini akan bersyukur alatnya pernah gue pake. Engga. Mereka pasti ngerasa bersyukur kalo mahkluk setampan gue make produk mereka, “gila gue bisa dapet duit gampang kalo udah terkenal nanti” pikir gue dalem hati sambil jongkok dan ngambil air untuk nyiram closet.

Gue keluar sambil menggosok-gosokan handuk ke rambut, pintu gue dobrak dan gue berjalan layaknya pemilik tempat ini, emang tempat ini milik gue sih, nanti kalo mau pindah pasti si pemilik kostan mohon-mohon biar gue tetep mau tinggal juga, secara gue orang tampan yang engga sembarang orang bisa jadiin penghuni kostan. Gue berjalan dengan percaya diri dan melihat ke cermin sambil membawa pakaian dan seketika itu gue melihat tubuh gue didepan cermin lagi. Sambil berpose sedikit layaknya oppa-oppa Korea gue mengatur rambut gue dengan pomade andalan gue sambil berkata dalam hati “Cewe-cewe pasti bakal klepek-klepek liat gue hari ini” Sembari tersenyum kecil gue mengambil tas dan bersiap untuk kekampus.
.
.
.
.
.

Kayanya cukup nih, diary mas ganteng buat edisi pertama, gue tak sanggup untuk membayangkan lebih lanjut, karena memang dia terlalu sempurna untuk gue deskripsikan.

-Mahasiswa… eh engga deng, Temennya makhluk tuhan paling Sexy.

Tahi Kucing

Sinar mentari kembali menyapa gue yang lagi bobo cantik di pagi ini, indah suasana kostan gue yang terletak di gang sempit dan tanah sejengkal sepertinya engga mengurangi indahnya hari ini, setidaknya itulah yang gue pikir.

Dalam hitungan detik gue dikagetkan oleh omelan Botol, temen kostan gue yang kerjanya ngeliatin dan ngomong sama botol, iya emang aneh tapi begitulah teman-teman gue, aneh semuanya.

Botol menggedor kamar gue dengan lumayan keras, layaknya orang gua yang lupa dengan teknologi pembuka pintu yang namanya gagang pintu, dia tetap menggedor pintu membabi buta.

Gue pun bangun dengan malas dan berjalan ke pintu yang jaraknya cuma selangkah (karena kamarnya sempit kaya pikiran gua). Gue membuka pintu dan dikagetkan dengan sosok botol yang tengah bertelanjang dada ria dan handukan, sebuah pemandangan yang rasanya ingin gue hapus dari memori yang disuguhkan oleh budaya hewan ini. Sebuah pertanda buruk. Banget.

Botol marah-marah mahasiswa (emang sih) karena ada seonggok tahi kucing yang duduk-duduk manja didepan pintu kamar kosannya, dan dia menuduh gue yang emang baru bangun sebagai pelaku yang menyimpan kotoran itu.

Ada beberapa poin asumsi logika disini:
1. Gue gamungkin banget bikin lelucon yang bodoh kaya gini, sebelum ngejailin dia pasti gue harus mendapatkan material kotoran itu dan ini malah lebih kaya ngejahilin gue.

2. Ini masih pagi banget. siklus hidup gue layaknya kalong, gue kerja malem dan tidur sampe pagi banget karena udara kota juga enggak sahabatan sama gue anak-anak pesakitan (Baca:Bengek).

3. Mana ada orang bego yang ngejahilin orang yang pasti ketahuan kalo elu pelakunya. Dasar bego.

Dengan serangkaian argumentasi yang panjang yang jelas-jelas engga ada esensinya, gue pun memenangkan pertarungan kita kala itu, tapi engga bangga sih karena pagi gue mesti rusak juga gara-gara tai kucing manis tadi. Gara-gara tai setitik, rusak pagi sebelanga.

-Mahasiswa, yang sering naro makanan depan kamar temen kostnya biar jadi tempat nongkrong hewan.

Sebuah Pengharapan

Tulisan kali didekasikan kepada semua ibu yang tiada lelah berjuang memberikan yang terbaik kepada buah hatinya, dalam segala upaya yang terpikirkan kita selalu berhutang padanya.

Ibu adalah orang yang selalu ingin memberikan yang terbaik pada anak-anaknya, yang terkadang mereka lebih mementingkan kebutuhan dan keinginan anaknya daripada kebutuhan dasar bagi dirinya sendiri sekalipun.

Ungkapan seperti itu sepertinya layak untuk disematkan kepada ibuku juga, tidak jauh berbeda dengan orangtua lainnya dia selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik kepadaku anaknya, yang kadang malah tidak bisa memberikan yang terbaik juga untuknya.

Jika boleh berkata keluarga kami mungkin layaknya keluarga ‘impian’ yang selalu ditampilkan di layar kaca hanya beranggotakan bapak, ibu dan anak laki-laki serta perempuan sebagai adiknya. Keluarga kami pun termasuk orang-orang yang beruntung karena kami berkecukupan, walaupun kadang hidup tidak selalu tawa dan bahagia, setidaknya kami selalu bersama dalam suka maupun duka.

Aku merupakan anak tertua di keluarga kami dan seorang laki-laki diatas itu semua, namun terkadang aku pun menyadari dalam beberapa hal kadangkala tindakan yang kulakukan tidak mencerminkan kedewasaan yang seharusnya, mungkin karena background masa kecilku yang notabene nya ‘anak manja’ dimana saat itu kebutuhan hidup serba tercukupi termasuk kebutuhan yang berlebihnya.

Namun dikala sedang berkecukupan pun ibu selalu mengajarkanku untuk lebih dewasa dan mandiri dalam menjalani hidup ini, kami tidak mempekerjakan asisten rumah tangga, jadi semuanya serba sendiri mulai dari masak, mencuci, dan membersihkan rumah. Sebuah rutinitas yang kala itu sangat kubenci, apalagi mencuci.

Mencuci adalah sebuah kegiatan yang lebih seperti ‘hukuman’ bagiku, kami hanya memiliki satu unit mesin cuci yang entah dari kapan sudah ada di rumah, mesin cuci itu mungkin peninggalan dari kakekku atau buyutku, pokoknya yang kutahu mesin cuci itu lebih tua dariku.

Seperti manusia yang semakin bertambah usia semakin terbatas pula kemampuan diri dan kinerjanya, begitu pula dengan mesin cuci tua yang menempati sudut rumah yang gelap dan lembab. Kadang kala mesin itu hanya bisa mencuci tanpa membuang air dan hasilnya aku mesti mencucinya lagi secara manual karena busanya masih tersisa, lain waktu airnya tersebut merembes keluar karena getaran mesinnya terlalu kencang dan akupun mesti mengelap daerah sekitar mesinnya karena basah, atau kala lain dimana mesin itu berhenti bergerak dan kami mesti ‘libur’ mencuci untuk minggu itu karena mesinnya harus diservis ke tukang reparasi.

Memang tidak jarang kami harus kesusahan oleh alat yang gunanya sebetulnya untuk meringankan kesusahan tadi, kesusaha-kesusahan yang ditimbulkan tidak jarang juga menimbulkan pertanyaan dan pernyataan dariku kepada ibu atas alasan mengapa masih mau menggunakan mesin cuci seperti itu yang seringkali malah menyusahkan dan menghambat aktivitas kami. Namun ibu akan tetap bersikukuh bahwa mesin cuci itu penting dan selama masih bekerja mengapa mesti repot-repot menambah pengeluaran dengan membeli barang lain yang fungsinya tidak jauh berbeda, begitulah argumen ibuu setiap aku mengungkit-ngungkit masalah mesin cuci itu, namun ada alasan lain yang lebih mendalam dan baru aku ketahui saat beranjak dewasa.

Semenjak beranjak dewasa hal-hal ‘kecil’ yang ibu lakukan selalu kembali dalam ingatanku namun dengan memberi arti yang berbeda seperti misalnya dalam kejadian mesin cuci tadi, setiap uang tambahan yang ibu dan ayah dapatkan dari kerja selalu mereka sisihkan untuk kebutuhanku di masa mendatang, dan memang terbukti saat aku menempuh studi kuliahku dan adikku mulai masuk sekolah kami dapat lebih mudah mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan finansial. Memang jika dibandingkan dengan yang dulu keadaan kami jauh berbeda dan dulu mengeluarkan uang untuk membeli mesin cuci yang baru tidak akan menjadi suatu masalah, namun bagiku tidak terlalu masalah karena yang utama adalah kesehatan dan kebersamaan bagi keluarga kami yang syukurlah masih ada terjaga.

Terkadang kita selalu terfokus terhadap apa yang kita mau bukannya apa yang kita miliki sekarang dan inilah yang menyebabkan kita jarang bersyukur atas kenikmatan yang kita rasakan hari ini dan cenderung meminta nikmat yang lebih daripada apa yang bisa kita terima sekarang, hal itulah yang aku pelajari dari peristiwa kecil tentang ‘mesin cuci tua’ yang akan selalu kuingat jika menceritakan tentang masa kecilku.

Aku yang sekarang tidak akan meminta hal yang ‘tidak-tidak’ seperti mengganti mesin cuci tua tadi karena memang selain kami tidak dalam kapasitas untuk menggantinya dan karena ada kebutuhan lain yang harus kita hadapi bersama-sama.

Namun terkadang jauh dilubuk hati ingin pula kuistirahatkan mesin cuci tua tersebut dan menggantinya dengan yang lebih praktis untuk membantu ibu yang sudah sudah beranjak tua jua.Itulah yang kupikirkan sembari menghitung uang yang ada dan melihat-lihat katalog yang ada.

16229964_B(1).jpg

Ilustrasi mesin cuci, walau gambarnya agak kebagusan :p

Rutinitas Ampas

Pagi ini lamunan gue terbuyarkan oleh ocehan gajelas Andri dan si bocah, seperti pasangan catdog yang memang saling membenci namun saling membutuhkan layaknya parasit,  pasangan teman penyuka sesama ini kembali membicarakan salah satu hal yang tabu bagi gue, yaitu kekalahan 10-2 Arsenal sama Bayern yang emang pada dasarnya bagaikan bocah sd ngelawan anak SMK jurusan teknik bangunan. Pembantaian.

Obrolan mereka sebetulnya engga asik-asik amat, kerap kali Andri kebingungan dengan jawaban ngaco yang dilontarkan Bocah, aneh juga sih mereka bisa temenan, antara salah satu dari mereka menjual persahabatan mereka, atau emang membeli persahabatan mereka (artinya sama aja btw).Lanjut.

Sepeti biasa Bocah seringkali melontarkan ucapan-ucapan absurdnya yang seringkali bikin gue geleng-geleng kepala, padahal gue sendiri adalah orang yang absurd, namun gue merasa dia absurd.Banget.

Jika dibedakan dalam kasta maka kasta absurd gue berada di kasta yang lebih tinggi, entah dia yang terlalu pintar atau gue yang terlalu bego, tapi seringkali gue rasa jokes-jokes yang dia lontarkan terlampau garing, tapi pada akhirnya gue pun ikut tertawa kasihan, meskipun pada akhirnya tawa gue lebih terlihat mirip orang meringis kesakitan daripada bahagia mendengar jokes dia, memang itulah yang gue rasakan ketika dia becanda. Sakit. Banget.

Namun rutinitas kali ini adalah sebuah kenormalan biasa yang selalu gue syukuri kalo inget. Dengan datangnya Andri, maka bocah otomatis akan mencurahkan segala kekuatan dan kemampuan jokesnya yang nyaris engga ada kepada Andri, dan gue bisa menyelamatkan telinga dan otak gue dari kontaminasi virus yang bisa ngerusak semangat belajar gue buat hari itu, yang sebetulnya enggak semangat-semangat amat buat belajar juga. Memang jokesnya puka kekuatan destruktif menakutkan seperti itu.

Pernah suatu kali, ketika sedang asyik-asyiknya bermain PES, yang merupakan paket standar akan kostan ngumpul bareng temen, si bocah nyeletuk-nyeletuk jokes yang garingnya melebihi gurun sahara dan neraka. Adalah sebuah paketan = gue muak + gue ga mood ketika denger dia nyeletuk jokes soal adanya vampir di tim yang dia mainin, yaitu Barcelona, dan percayalah engga ada vampir beneran di tim ini dan dalam fantasi kecil dunianya mungkin ini adalah fakta paling fantastis dan komedis (?) dalam hidupnya. Singkat kata gue muak mendengar jokes dia yang basi banget. dan mengutuk setiap detik waktu gue yang terbuang mencoba untuk tertawa ‘meringis’ karena gue gamau melukai hatinya, setidaknya nanti pake cara yang lebih kejam.

Namun rasanya rutinitas ampas layaknya pas maen PES atau pas ngumpul di kelas kaya gitulah yang paling akan gue kenang, karena di tempat kerja nanti ga akan ada bocah dan gak akan ada lagi orang yang becandaanya garing. Semoga.

-Mahasiswa yang sebisa mungkin engga ngobrol sama bocah karena pengen harinya lebih baik.

Mumet Merah Maroon

700

Judul ini terinspirasi dari salah satu mahakarya Raditya Dika, yang film dan buku nya gue suka banget. Tapi, satu-satunya kesamaan dalam cerita ini adalah sama sama ada merahnya, pemerannya (yaitu gue) sama-sama jomblo, dan ceritanya sama-sama bikin mumet. Begini kira-kira ceritanya.

Merah maroon, merupakan warna yang akan selalu bikin gue dan temen-temen angkatan bangga (bukan bangga bahasa sunda ya). Merah maroon ini adalah warna dari jurusan gue tercinta, yang untuk satu dan lain hal gue ga akan ceritain (sebut aja Humas).

Dalam blantika kampus raya, gue cukup bisa berbangga karena jurusan gue lumayan aktif dalam organisasi, dan ini artinya lumayan ‘aktif’ dalam bikin acara (Baca:Masalah) yang menuntut setiap orang di jurusannya untuk selalu berinovasi dan bekerja keras untuk mempertahankan kinerja jurusan gue.

Seperti yang biasa orang bijak bilang (yaitu gue), dibalik sebuah kegiatan yang sukses maka akan ada curahan waktu, tangisan bahkan cucuran darah muda (ini lebay) yang diberikan untuk almamater tercinta, gatau cintanya karena dipaksa atau karena ketulusan hati yang terdalam (Kolaborasi Tulus sama Peterpan nih).Lanjut.

Si Maroon setiap waktunya selalu memberikan ‘kemumetan-kemumetan’ baru yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, disatu waktu kita mumet karena dipaksa jadi peserta acara, diwaktu lainnya kita mumet karena ngurusin suatu event dimana kita ‘menarik’ orang buat ikutan acara kita, di waktu selanjutnya kita lebih mumet lagi dengan jadi pengawas orang yang ngurusin suatu event dimana mereka ‘menarik’ orang buat ikut acara orang yang orang tadi jadi peserta acara kita (udah mumet kan bacanya juga ?).

Namun disatu sisi, diantara ping-pong satu kesibukan dan kesibukan lainnya, misalnya kesibukan untuk hidup dan kuliah (iya gue nyambil kuliah) gue termasuk orang-orang yang ‘nyaman’ karena permasalahan gue engga ditambah dengan urusan cinta monyet yang emang engga gue terlalu pikirin, karena percuma juga hehe.

Diantara kesibukan itu gue merasa kalau justru karena kesibukan itulah gue memiliki arti setidaknya untuk menjalankan hari demi hari, yaitu untuk menyelesaikan satu kerjaan di jurusan ke kerjaan lainnya, dan disadari atau engga (lho jadi penulisnya sadar gak sih ?), gue pun mendapat banyak hal baru karena salah satunya kepaksa ikutan di Merah Maroon ini, entah itu temen gawe yang baru, pengalaman yang baru, kesusahan yang baru, masalah yang baru, pengeluaran yang baru juga hehe.. tapi ga mengapa karena selama ada benefit yang kita dapatkan dari suatu pengorbanan dan hasilnya ‘lebih’ maka itu bukan sebuah kerugian, setidaknya itulah yang dikatakan senior pencuci otak gue.

Dan lagi, diantara kesibukan di jurusan dan kesibukan lainnya hidup di dunia karena manusia akan selalu disibukan dengan urusan duniawinya, diantara momen seperti ini gue merasa hidup, dan merasa lebih hidup lagi setelah menyelesaikan satu kerjaan ke kerjaan lainnya.

Hidup gak hidup masalah akan selalu ada, namun lebih baik masalah itu ada saat masih hidup ketimbang nanti pas udah engga.

-Mahasiswa bijaksana bijaksini yang masih belajar cara menjalani hidup

Susah Ngomong Sama Orang Susah

Adalah sebuah oksimoron ketika gue bilang hal yang jadi judul ini ke orang-orang terdekat gue, kenapa ? karena gue pun masuk kedalam orang-orang susah yang susah buat diajak ngomong.

Dalem kehidupan dewasa ini di salah satu kampus yang ada di Bandung, gue cenderung bertemu dengan orang-orang laknat yang cenderung memaksakan kehendaknya dan cenderung ngerasa dia paling bener diantara kita semua makhluk fana, padahal layaknya sebuah dialektika kebenaran yang dilogikakan oleh akal selalu akan memiliki sisi kebenaran dan kesalahan, ya namanya juga manusia. Orang-orang yang seringkali ngerasa bahwa dia paling bener, sering gue definisikan sebagai bayi gede, karena layaknya bayi mereka membutuhkan perhatian lebih secara terus menerus dan harus selalu dipenuhi kebutuhannya tanpa memikirkan pihak yang membantu mereka.

Pertemuan gue dengan manusia-manusia laknat  yang cenderung memaksakan kehendaknya dan ngerasa paling bener ini biasanya gue jelaskan dalam satu kalimat yang singkat dan padat, “Susah Ngomong Sama Orang Susah”, bukan terjemahan orang susah secara harfiah, namun secara tersirat guna menyeimbangkan padanan katanya saja.

Layaknya air yang ketemu batu, kamu dan aku takan pernah bersatu (quotable nih). Walaupun pada kenyataanya air menetes lama-lama bisa menembus batu, dan air kalo digabung sama batu jadi enak (Baca: Es Batu). Orang-orang yang batu bukanlah jenis manusia yang bisa diajak enak-enak kompromi, seringkali jika tidak dibarengi iman dan taqwa (Botak disewa) kita tidak dapat melancarkan sebuah argumen yang valid kepada makhluk-makhluk berhati batu, dan pada akhirnya kita orang-orang yang lebih gila waras akan berakhir menerima argumen dia, dan memaklumi mereka karena kita memang berhati besar atau terlalu malas buat ngomong sama orang susah itu, kebanyakan yang kedua sih.

Pernah suatu kali di JatiNew York nun jauh di mata dekat di hati, gue mendapat musibah berkah untuk bertemu dengan makhluk spesies Batunicus ini, dengan membawa serangkaian keinginan dan harapan yang dibalut public speaking (itulah humas). Dia berhasil meyakinkan semua orang kecuali gue karena bukan orang untuk mengikuti caranya dalam membuat sebuah event, semua orang pada dasarnya mager untuk ngikutin apa yang dimau Batunicus, tapi apa daya mereka cuma bisa nerima-nerima aja karena urusannya bisa panjang kalo ngelawan Batunicus itu, gue pun termasuk orang yang nerima-nerima aja walau dalem hati jengkol jengkel setidaknya hari itu gue selamat dari omongan sia-sia karena ngomong sama orang susah.

Memang studi tentang orang-orang berkepala batu ini minim sekali kita temukan, bahkan di Gugel sekalipun, namun gue percaya kelak pertempuran ini akan berakhir, dan orang-orang berhati batu akan hancur(kok jadi serius ??) layaknya nilai IPK kamu ketika bertemu dosen-dosen yang kepalanya mirip batu, yaitu sama sama hancur.

-Mahasiswa yang susah ngomong sama orang susah….. apalagi yang cakep

Nikmat Gabut Apalagi Yang Kamu Dustakan

Adalah sebuah rutinitas yang biasa bagi mahasiswa-mahasiswa menjelang ajal semester akhir untuk merasa lebih sibuk dibanding junior-junior lucunya, seperti yang gue alamin akhir-akhir ini.

Kalo hidup itu bagaikan bola ping-pong, dimana kita akan diping di satu sisi lalu di pong di sisi lainnya (apasih ?) maka gue merasa kalo ‘rally’ ping-pong hidup gue semakin intens dan lama dibanding biasanya.

Gue merupakan orang utan yang memiliki mobilitas tinggi (kayanya). Gue pun orang yang termasuk dalam kategori ‘gercep freak’ yaitu senang menjalankan segala sesuatu dengan lebih cepat dibanding rekan-rekannya tapi dengan hasil yang seadanya, gak jarang temen-temen yang pada minta bantuan ke gue berakhir dengan hasil kerja yang lebih baik dari gue, gak kenapa-napa sih cuma biasanya kedepannya gue ngasih dia tugas-tugas yang ngaco. banget.

Ada sebuah kenyamanan ketika kita bisa santai berleha-leha, sedangkan rekan-rekan lainnya masih berkutat, bergumul, sama gawean yang udah kita selesain dari jauh-jauh hari, nikmat rasanya, udah kaya narkoba. *bukan narik kolor bapak*

Waktu gabut, adalah waktu bagi gue untuk beristirahat total dan menghilang dari segala peradaban yang ada di dunia, gue lebih memilih untuk menyendiri di akhir pekan dibawah selimut dan balutan baju dua hari yang lalu. Mungkin karena jomblo mager. Entah kenapa setelah 5 hari bekerja dan bersosialisasi (senin-Jum’at) di akhir pekan gue akan berbeda 180 derajat celcius dibanding gue yang ada di hari-hari kuliah. Gue menolak untuk banyak bicara dan banyak bergerak, kebiasaan yang buruk memang, tapi kayanya kita gabisa lepas juga dari rutinitas di hari-hari kerja itu dan berakhir dengan kelelahan di akhir pekan.

Tapi mungkin yang gue alami adalah sebuah paradoks, karena pada kenyataanya kenikmatan gabut yang sesungguhnya hanya akan gue alami setelah beraktivitas secara penuh pada hari-hari kuliah, mungkin nikmat mager hanya akan kita rasakan ketika kita telah menjalani hari-hari secara penuh kepalsuan. Namun waktu gabut pun banyak memberi gue inspirasi dan tambahan kekuatan untuk menjalani hari-hari fikom sibuk lainnya.

Dan sekarang gue mager buat nulis wkwk.

-Mahasiswa yang mager. banget.

It’s A Wonderful Life

Tempo hari saya dapet sms yang isinya kurang lebih menanyakan kalau saya ingin jadi aktor dan milih sebuah film maka film mana yang akan saya pilih dan alasannya kenapa. Otomatis, saya pun langsung browsing list film-film yang pernah saya tonton (which is lumayan banyak) dan butuh waktu sekitar dua jam untuk membalas sms orang tadi. Pilihan saya akhirnya jatuh pada film jadul yang umurnya sama dengan umur Indonesia merdeka.

518356GQPGL

It’s A Wonderful Life merupakan film lama yang menceritakan tentang keajaiban pada saat natal yang menimpa George Bailey, orang yang menurut saya memiliki segalanya dalam masa mudanya, dia tampan, cerdas, berbakat, dan yang paling penting adalah memiliki impian, saya pun percaya kalau di awal film dia memutuskan pergi dari daerah tempat tinggalnya yang lumayan “suram”, mungkin dia akan berakhir sebagai seorang jutawan di sisi lain Amerika saat itu.

George Muda memutuskan masa mudanya dengan bekerja di perusahaan mendiang Ayahnya yang mana dia berhasil memimpin perusahaan itu dan menjadi satu-satunya perusahaan yang selamat dari cengkeraman seorang konglomerat jahat di daerah tempat tinggalnya, awalnya George muda awalnya bekerja hanya untuk menyelamatkan perusahaan mendiang ayahnya namun takdir berkata lain, adiknya yang dia harapkan untuk menjadi penggantinya malah memutuskan untuk pergi ke kota dan akhirnya tetap George lah yang menjadi pemimpin perusahaan kecil tersebut, Disini yang perlu diketahui adalah dia memutuskan untuk mengorbankan mimpi dan impiannya sendiri untuk keluarganya dan merupakan hal yang saya rasa jarang ditemui dewasa ini.

Singkat kata setelah sekian waktu berlalu George mulai beranjak tua dan sakit-sakitan, namun dia tetap menjalankan perusahaanya yang bergerak di bidang kredit dan penyediaan rumah dengan bunga minimum untuk orang-orang sekitar daerahnya, yang mana kala itu merupakan harapan satu-satunya bagi orang-orang kelas pekerja untuk mendapatkan sebuah rumah dan kehidupan yang layak karena minimnya upah dan kebutuhan yang tinggi kala itu. George selalu menjalani hidupnya dengan lapang dada dan bahagia, dia berhasil menemukan kebahagiaan dari lingkungan sekitarnya dan bahkan orang-orang sekitarnya pun mendapat kebahagiaan darinya, namun seiring berjalannya film entah mengapa saya merasa bahwa kebahagiaan yang ditampilkan oleh George seakan-akan palsu, dia belum bahagia sepenuhnya dan saya rasa pengorbanan diri sendiri hanya akan memberikan rasa sakit dan ketidakpuasan terhadap diri, namun sekali lagi anggapan saya salah.

0845b8a59ac2cb5c95c0b4ce0eae8654

Diakhir film, diceritakan bahwa George telah ditipu dan uang yang harus ia berikan sebagai biaya pembayaran telah dihilangkan pamannya yang sebetulnya lupa menyimpan di bank. Kejadian itu bagaikan pemantik dan George seperti mengeluarkan semua beban yang ia pangku selama ini, dia marah kepada pamannya, kepada keluarganya, bahkan kepada orang-orang yang selama ini ia tolong, hingga akhirnya dia mencoba untuk bunuh diri namun percobaan itu ‘digagalkan’ oleh kedatangan seorang ‘peri’ yang menolongnya namun George tetap berharap bahwa ia tidak pernah ada di dunia ini dan tuhan pun mengabulkan permintaanya.

George pun menemukan ia dalam keadaan dimana dia tidak pernah ada di lingkungannya, semua tempat berubah, semua orang pun berubah, mereka lebih murung dan lebih susah dari sebelumnya, ketika George pergi ke bar tempat dia biasa menenangkan pikiran orang-orang tidak mengenalinya dan bahkan mengusirnya, ketika dia pergi ke tempat kerjanya tempat itu sudah hilang disulap menjadi teater oleh konglomerat yang picik, ketika George pergi ke kompleks perumahan yang dia pinjamkan uang rumah itu hanyalah hamparan pemakaman kosong. George pun menyesali harapannya dan meminta tuhan untuk mengembalikan keadannya seperti sedia kala.

Tuhan mendengar permintaan George, dia pun kembali sembari berteriak-teriak kegirangan layaknya orang yang kehilangan akal, dia berteriak ke orang yangs edang berjalan, dia berteriak kepada polisi yang sedang bertugas, meneriakan syukur dan kebahagiaan karena sudah diberikan kehidupan. George berlari menuju rumahnya dan dia langsung memeluk anak-anak yang dia marahi sebelumnya, dia menciumi mereka sembari meminta maaf atas kelakuannya sebelumnya.

hoooray
Di akhir film, polisi datang ke rumah George untuk menjemputnya karena kasus uang yang hilang, George pun pasrah namun dia seperti bahagia dan bahkan meminta polisi untuk menangkapnya secara sukarela, namun istri George datang membawa kabar gembira, dia telah menggalang dana dan semua orang di tempat tinggal George secara sukarela menyumbang uang untuk membantu masalah yang sedang George hadapi, ada orang yang ia tolong saat sedang sakit, orang yang dulu ia urus saat kehilangan anaknya, bahkan saudara George yang sudah jadi perwira tinggi pulang saat mendengar George sedang kesusahan. Film ini pun berakhir bahagia dengan segala kebaikan yang George berikan kembali padanya dengan cara yang tidak dapat dijelaskan secara akal.

Film ini adalah sebuah do’a dan pengharapan bagi orang-orang yang merasa bahwa pengorbanannya sia-sia dan keikhlasan mereka tidak akan terbalaskan, dari film ini saya belajar bahwa hidup bisa menjadi indah dengan relasi yang baik antar sesama dan dengan menjalani sesuatu dengan ikhlas, karena pada akhirnya layaknya kehidupan yang dijalani George, semua akan terbalaskan dengan caranya masing-masing, dan semua kebaikan yang kita tanam akan berbuah kebaikan juga. Film ini mungkin bagi beberapa orang cenderung agak utopis, dimana semua hal kadang tidak berjalan seindah maupun semudah film, namun entah mengapa sentuhan humanis disana-sini terasa lebih dekat bagi saya ketimbang film-film dengan genre serupa lainnya.

Jika saya boleh mengutip dari film, “Tidak ada seorang pun yang gagal, jika ia memiliki teman” semoga semua pembaca budiman yang sudi meluangkan waktu untuk membaca coretan saya diberkahi dengan teman yang baik, yang tidak hanya membantu mereka tumbuh tapi tumbuh bersama anda sekalian juga. Sampai Jumpa

-Mahasiswa yang diberkahi dengan teman-teman hebat dan tumbuh bersamanya.

Langkah Yang Baru

Orang bilang, hidup adalah satu fase menuju fase yang selanjutnya, bagaikan melewati gerbang yang saling berhubungan menuju gerbang selanjutnya, jika melihat ke belakang rasanya sudah banyak yang kita lewati, namun perjalanan ke depan sebetulnya masih jauh membentang.

Terkadang kita juga membutuhkan sebuah ‘pemantik’ atau alasan lebih guna dapat melangkah lebih jauh, entah pilihan lanjut ini akan menjadi sebuah berkah atau musibah tidak ada yang tahu sampai cerita itu benar-benar berakhir. Mungkin itulah yang gue rasakan saat ini.

Gue mencoba untuk keluar dari zona nyaman dan lebih mengeksplor diri yang salah satunya dengan melawan kemalasan yang mengerogoti diri, and so far so good.. mungkin agak berlebihan untuk bilang seperti itu di awal, tapi setidaknya dengan memangku jabatan gue pun mendapat pandangan yang baru akan banyak hal.

Masa depan mungkin akan lebih berat dan lebih menantang, namun seperti lagu yang temen gue suka, masa depan pada akhirnya tidaklah seburuk itu, langkah yang baru berarti pengalaman yang baru dan pandangan yang baru, yang pada akhirnya akan membuat dunia kita semakin berwarna dan semakin bijak dalam menyikapi berbagai hal.

Selamat datang masa depan!

-Mahasiswa yang penasaran sama apa yang akan masa depan berikan padanya

Family Are Forever

Adalah sebuah anugerah yang hakiki, ketika kedatangan orangtua ke kamar kost, karena udah jadi rutinitas yang engga tertulis, tiap bokap nyokap dateng pasti mereka bawa makanan, bawa duit dan yang kerennya mereka bakal ngajak makan dan saat itu gue bisa makan sepuasnya sambil berusaha ningkatin gizi(bukan berat badan ya). Rutinitas kaya gitu penyelamat banget apalagi kalo ada di akhir-akhir bulan, ditambah lagi akhir-akhir studi kuliah. Namun lebih dari rasa lega nya karena dikasih duit dan dikasih makan gue cukup lega dengan kedatangan orangtua, apalagi dengan keberadaan bokap.

Kalo ngomongin bokap kayanya agak canggung kalo gue bilang dia orangtua, bukan kenapa-napa tapi bokap emang kayanya agak kurang masuk kategori orangtua, karena  bagi gue bokap udah kaya abang gue sendiri. Bokap gue adalah tipe orang pengertian yang sebetulnya umurnya dua kali lipat umur gue, tapi kalo bareng udah kaya temen setongkrongan, mungkin karena mukanya awet muda (moga nular ke gue) ataupun sifatnya yang udah ‘bro’ banget sama gue.

Masa kecil yang gue inget bareng bokap selalu diisi sama kenangan-kenangan kejahilan kita, entah itu dia yang jahil atau gue yang ngejahilin dia, dia pun bukan sosok orang yang pemarah kalo dijahilin, cuma paling dia bakal ngejahilin gue yang lebih parah. Pernah suatu waktu pas zaman-zaman PS 1 masih ngehits, gue dan bokap begitu tergila-gila sama maen janda  PS, gue maen pas pagi, dan dia maen pas malem karena gue tidur, namun ada satu game kontroversial yang bikin gue trauma sampe sekarang, tak lain tak bukan gamenya Resident Evil.

Entah mengapa, bagi gue saat itu zombi itu lebih menakutkan daripada ditolak setan-setan lainnya yang kala itu menghiasi layar kaca (Sekali lagi, maksud gue TV), mulai dari Suzanna, Mumun Copong, Tessy dan kerabat kerja(Itu setan apa CV??). Walaupun grafik dari game zombi itu ga terlalu bagus sampe-sampe kayanya kalo sekarang maen lagi mata gue pasti akan sakit ngeliat kualitas gambarnya (Udah kaya ngeliat mantan), gue akan selalu terbayang tentang potongan demi potongan gambar yang ada di game itu, dan entah kenapa gue jadi sering parno dan mikir kalo ada serangan zombi maka gue akan pergi kemana dan benda apa aja disekitar gue yang bisa dijadiin senjata, hal inilah yang ngebuat pas masih kecil gue selalu bawa-bawa sapu lidi tiap ke toilet malem-malem, dalem pikiran gue lidi ini bisa gue pake nyolok mata zombinya biar kesakitan, emang bego dasar.

Bokap gue tahu persis kelemahan itu dan dia pun mulai melancarkan pembalasan dendamnya atas kejahilan gue yang sebetulnya ga seberapa, waktu itu gue diminta buat ngebangunin dia dan cara yang gue lakukan adalah numpahin air ke dalem telinganya, alhasil kejahilan gue yang tadi dibalas sama kejahilan bokap gue yang paling parah. Serius.

Di suatu malem, entah kenapa gue yang terbiasa bangun di kamar orangtua tiba-tiba malah kebangun di kamar belakang, dan yang ada dalem pikiran gue adalah, gue. Anjir. Mampus Gue.

Dengan terbirit-birit, gue langsung tancap gas lari keatas dan tanpa diduga tanpa didagu bokap gue tiba-tiba muncul dan bergerak layak zombi sambil ngangkat tangan, lidah melet-melet dan mata juling, persis kaya orang ayan tapi gue yang terlalu polos saat itu cuma mikir satu hal. Bokap Gue Jadi Zombi.

Gue nangis histeris, bukan hanya karena kaget ngeliat ‘Zombi’ tapi karena gue mikir waktu itu bokap gue udah engga ada, bokap cuma bisa ketawa-tawa dan nunjuk-nunjuk muka gue sembari bilang “Rasain, kualat kamu jadi anak”. Jleb banget.

Pesan Moralnya adalah jika kalian jadi orangtua nanti, jangan sekali-kali nakutin anak kalian dengan jadi zombi, pertama karena emang udah ga zaman, kedua itu bikin anak kalian trauma dan akhirnya tiap malem mau ke toilet minta anter terus yang artinya tugas kalian jadi dobel, selain jadi orangtua kalian juga harus jadi tukang anter anak ke toilet.

-Mahasiswa yang masih suka parno kalo nonton film Zombi