Di Dalam Tubuh yang Kuat, Terdapat Jiwa Psikopat

Pepatah bilang “di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang psikopat sehat”

Gue sepertinya ikut mengamini pula pepatah itu, contohnya aja pas dulu pernah jadi maba semester 3, disitu waktu gue lagi semangat-mangatnya jadi babu  volunteer kegiatan kemahasiswaan yang tumbuh bagaikan jamur di musim hujan di kampus gue. Dan fakultas gue pun emang terkenal dengan jadwal kepanitiaan yang padet antara satu kegiatan sama yang lainnya, padet udah kaya lubang pant*t yang angin lewat pun mesti menjerit (Baca: Kentut).

Oke lanjut, ceritanya ospek fakultas gue kali itu mengambil judul yang ga terlalu berbeda sama ospek-ospek sebelumnya ( Dari dulu Transformasi, Transisi dan bagian gue tak lain tak bukan, Dedikasi). Gue pun kebagian di divisi medik, dan *Jeng Jeng* inilah awal mimpi buruk di bulan puasa tahun 2015…

Bulan puasa kala itu gue rasa bulan puasa yang lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya, engga bukan karena gue sahur dengan kebanyakan makan dan minum (Walaupun iya juga sih) tapi karena di sela-sela menunda haus dan lapar gue diharuskan untuk lari-lari keliling kampus dengan waktu yang ditentukan yaitu 10 Menit… sebuah misi yang imposibru kala itu… masih imposibru juga sih kalo dikerjain sekarang. Oke. Skip.

Well, anyway gue yang kala itu masih suci polos tanpa noda cuma bisa manut-manut aja sama permintaan senior biadab, alkisah gue pun pergi untuk melaksanakan titahnya mencari kitab suci menjelajah keliling kampus, yang sialnya jalannya naik turun, gue mencoba untuk sprint dan berada di barisan depan memimpin teman gue, namun dalam hitungan detik akhirnya tetap di belakang barisan jua, layaknya pepatah setinggi-tingginya tupai melompat pada akhirnya kredit motor juga. Oke. Skip.

Namun untungnya, gue di barisan belakang ditemani oleh sebut aja “Stephen Chow” anak jurusan sebelah yang sekarang lagi sibuk-sibuknya ngurus T.A. dan walhasil jarang banget di kampus, Si Stepen ini koor medik pas gue jadi panitia dan dia care banget sama tiap anak-anaknya, terutama yang cewe, bukan care sih mungkin dia cari muka aja. Oke balik lagi ke cerita, si Stepen enggak henti-hentinya nyemangatin gue buat terus menjaga jarak sama rombongan, walau dia bisa aja pergi ninggalin gue tapi dia tetap setia mengiringi langkah gue di kampus sore itu, mungkin ini yang namanya cinta.


well, ga banyak kejadian setelah beres lari, gue pun menjalani aktifitas gue sehari-hari yaitu gabut dan sorenya kumpul lagi buat ikutan ToT (Bukan porno, ini singkatan Training of Trainer) sebetulnya gue pun agak samar kalo diminta buat nginget-nginget kejadian itu, mungkin karena emang ga terlalu penting juga, atau emang karena trauma, yang jelas adalah semenjak saat itu gue seringkali berpikir dua kali tiap diminta ikut kepanitiaan atau acara, bukan karena apa-apa, seringkali kita malah termakan bujuk rayu setan terpaksa dalam menjalankan suatu hal dan imbasnya malah jadi beban dan kerjanya pun kurang maksimal, apalagi kalo berkaitan dengan olahraga dan fisik, jangan pernah nyari gue karena dua hal itu.

-Mahasiswa, yang masih suka bingung kalo diajak futsal atau main basket sama temennya

Advertisements

2 thoughts on “Di Dalam Tubuh yang Kuat, Terdapat Jiwa Psikopat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s