Dari Sukasari Dengan Cinta Pt.2 (Hari Yang Biasa)

Pagi itu seperti biasa gue terbangun oleh lagu “I I Aw” milik Dylan, sebuah rutinitas yang biasa terjadi di dalem rumah KKN Cowo, gue pun beranjak dari kamar, melihat sekeliling, dan di samping kiri ada kordes gue Bang Gacong yang sering ngeluh dingin tapi tidurnya sering pake singlet dan sebelahnya ada Bang Mamat yang masih tidur juga pake tumpukan tisu N*ce isi 500 pcs sebagai bantalnya, pernah suatu waktu Bang Gacong pun mengikuti metode yang dilakukan Bang Mamat untuk tidur, namun tampaknya menggunakan kresek Alfa*art berisikan baju bersih hasil laundryan bukanlah solusi yang tepat, karena gara-gara itu mukanya jadi biru sebagian, tampaknya bukan hanya cinta yang bisa luntur tapi kresek Alfa*art pun bisa kalo ditidurin semaleman.

Didepan pintu kamar gue, biasanya ada *maaf* seonggok Bang ipul yang layaknya satpam abis jaga malem tidur persis didepan kamar gue, orang ini aneh bin ajaib dan kayanya ga cukup kalo Cuma diceritain secara singkat disini, mungkin nanti bakal gue bikin penelitian khusus tentang dia.

Satu kebiasaan Ipul yang paling ajaib adalah dia bisa tidur dimana aja, dalam keadaan apa aja, entah itu dalam keadaan waras atau engga. Pernah suatu kali waktu lagi enak-enaknya dengerin music dia ketiduran dan HP nya nyala semaleman, alhasil paginya dia mencak-mencak karena batre HP nya lowbat. Tapi ada satu kebiasaan dia, yang sebetulnya *maaf* agak kurang senonoh untuk diceritakan, dia seringkali ngelindur dan waktu parah-parahnya pernah suatu kali gue lagi ngerjain rundown acara dan tiba-tiba dia tidur sambil ngelepas baju, terus tiba-tiba bangun dan teriak “ini siapa yang ngelepas baju gue ?” gue hanya bisa geleng-geleng dan ngerasa maklum, memang susah berteman dengan orang yang berkebutuhan khusus.

Ketika gue ngeliat kedepan, ada dua mahkluk lagi yang emang kalo tidur seringnya satu ranjang, tapi yang satu ngadep tembok dan satunya ngadep langit-langit, mereka persis layaknya suami-istri yang sudah lama berumah tangga, ya.. mungkin layaknya suami-suami yang lagi ribut karena yang satu pengen nonton sinetron dan satunya pengen nonton film india dan akhirnya ribut mereka kebawa-bawa ke urusan ranjang. Tapi soal kecocokan, Elmu & Preman adalah pasangan yang cocok satu sama lain yang satu hobinya kentut, yang satu hobinya sendawa, mereka bisa saling berbagi udara ketika saling membutuhkan. Kalo kata orang, tingkat pertemanan tertinggi bagi seorang cowo adalah ketika mereka disebut Homo satu sama lain, ya mungkin begitulah mereka, seorang teman homo sejati.

Lanjut ke kamar samping kanan, adalah kamar yang diisi Mas Kiwil yang isinya hanyalah tumpukan barang-barang anak KKN dan dia seorang, dengan posisi tidur menyamping tangan dijadikan bantal dan kaki sedikit ditekuk, gue seringkali mengibaratkan kamar itu layaknya kamar seorang gadis, yang isinya gadis perawan yang tentu saja diperankan oleh Mas Kiwil. Kamar ini seringkali dijadikan tempat ibadah (Baca: Sholat) bagi sebagian dari kami, bagi sebagian lagi tempat ini tempat buang sampah karena dari awal kita tinggal sampe akhirnya pulang, kayanya tempat itu gapernah dibersihin dan Cuma tuhan yang tau berapa marga dan suku hewan melata yang tinggal disitu.

Kalo nengok ke kiri, maka kamar yang akan kalian liat adalah Kamar “Sel Penjara” yang isinya Mang Non Ac sama Bang Patah, bukan… bukan karena mereka adalah residivis (kayanya sih bukan). Tapi karena struktur kamarnya yang gelap, lantainya juga gelap, orang-orang yang disana juga badannya gelap, terus cahaya hanya ada dari jendela kecil diatas yang kalo dilihat sekilas mirip banget sama tembok ratapan yang ada di film. Tapi, kayanya kamar ini yang paling cozy diantara kamar lainnya, karena rata-rata orang yang tidur disini adalah orang yang paling lama bangun dan paling lama tidur (apanya tuh?).

Balik lagi ke kamar gue, ada satu orang yang belum sempet gue ceritain secara full, tak lain tak bukan adalah pengaDylan, sosok orang yang selalu tidur nemenin gue, tapi malah tidur duluan, sosok orang yang selalu sukses mengkudeta lahan gue tidur yang udah sempit pake baju-baju kotornya, sosok orang yang seringkali ngebangunin gue dengan lagu laknatullah “I I Aw” nya yang ternyata dia kebangun pun karena dengkuran gue yang keras jadi sebetulnya kaya paradox semacem film Inception nya Gacong Di Caprio.

Itulah hari-hari biasa yang selalu menjadi rutinitas di rumah KKN gue, ga banyak hal yang penting, tapi kalo diinget-inget kayanya lumayan bikin kangen juga, gue yang sekarang makin sibuk dengan segala rutinitas kampus dan tuntutan kuliah, secara lah mahasiswa sibuk pasti akan merindukan saat-saat tenang di kampung bareng rekan-rekan senasib dan sepenanggungan.

Layaknya pohon yang menjulang tinggi keatas, pastilah didukung pula dengan akar yang kuat, dan waktu yang lama dalam proses pertumbuhannya. Itulah namanya menjadi dewasa dan melanjutkan hidup.

-Mahasiswa yang masih belum move on dari gabutnya KKN

Advertisements
Posted in KKN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s