Mumet Merah Maroon

700

Judul ini terinspirasi dari salah satu mahakarya Raditya Dika, yang film dan buku nya gue suka banget. Tapi, satu-satunya kesamaan dalam cerita ini adalah sama sama ada merahnya, pemerannya (yaitu gue) sama-sama jomblo, dan ceritanya sama-sama bikin mumet. Begini kira-kira ceritanya.

Merah maroon, merupakan warna yang akan selalu bikin gue dan temen-temen angkatan bangga (bukan bangga bahasa sunda ya). Merah maroon ini adalah warna dari jurusan gue tercinta, yang untuk satu dan lain hal gue ga akan ceritain (sebut aja Humas).

Dalam blantika kampus raya, gue cukup bisa berbangga karena jurusan gue lumayan aktif dalam organisasi, dan ini artinya lumayan ‘aktif’ dalam bikin acara (Baca:Masalah) yang menuntut setiap orang di jurusannya untuk selalu berinovasi dan bekerja keras untuk mempertahankan kinerja jurusan gue.

Seperti yang biasa orang bijak bilang (yaitu gue), dibalik sebuah kegiatan yang sukses maka akan ada curahan waktu, tangisan bahkan cucuran darah muda (ini lebay) yang diberikan untuk almamater tercinta, gatau cintanya karena dipaksa atau karena ketulusan hati yang terdalam (Kolaborasi Tulus sama Peterpan nih).Lanjut.

Si Maroon setiap waktunya selalu memberikan ‘kemumetan-kemumetan’ baru yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, disatu waktu kita mumet karena dipaksa jadi peserta acara, diwaktu lainnya kita mumet karena ngurusin suatu event dimana kita ‘menarik’ orang buat ikutan acara kita, di waktu selanjutnya kita lebih mumet lagi dengan jadi pengawas orang yang ngurusin suatu event dimana mereka ‘menarik’ orang buat ikut acara orang yang orang tadi jadi peserta acara kita (udah mumet kan bacanya juga ?).

Namun disatu sisi, diantara ping-pong satu kesibukan dan kesibukan lainnya, misalnya kesibukan untuk hidup dan kuliah (iya gue nyambil kuliah) gue termasuk orang-orang yang ‘nyaman’ karena permasalahan gue engga ditambah dengan urusan cinta monyet yang emang engga gue terlalu pikirin, karena percuma juga hehe.

Diantara kesibukan itu gue merasa kalau justru karena kesibukan itulah gue memiliki arti setidaknya untuk menjalankan hari demi hari, yaitu untuk menyelesaikan satu kerjaan di jurusan ke kerjaan lainnya, dan disadari atau engga (lho jadi penulisnya sadar gak sih ?), gue pun mendapat banyak hal baru karena salah satunya kepaksa ikutan di Merah Maroon ini, entah itu temen gawe yang baru, pengalaman yang baru, kesusahan yang baru, masalah yang baru, pengeluaran yang baru juga hehe.. tapi ga mengapa karena selama ada benefit yang kita dapatkan dari suatu pengorbanan dan hasilnya ‘lebih’ maka itu bukan sebuah kerugian, setidaknya itulah yang dikatakan senior pencuci otak gue.

Dan lagi, diantara kesibukan di jurusan dan kesibukan lainnya hidup di dunia karena manusia akan selalu disibukan dengan urusan duniawinya, diantara momen seperti ini gue merasa hidup, dan merasa lebih hidup lagi setelah menyelesaikan satu kerjaan ke kerjaan lainnya.

Hidup gak hidup masalah akan selalu ada, namun lebih baik masalah itu ada saat masih hidup ketimbang nanti pas udah engga.

-Mahasiswa bijaksana bijaksini yang masih belajar cara menjalani hidup

Advertisements

One thought on “Mumet Merah Maroon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s