Rutinitas Ampas

Pagi ini lamunan gue terbuyarkan oleh ocehan gajelas Andri dan si bocah, seperti pasangan catdog yang memang saling membenci namun saling membutuhkan layaknya parasit,  pasangan teman penyuka sesama ini kembali membicarakan salah satu hal yang tabu bagi gue, yaitu kekalahan 10-2 Arsenal sama Bayern yang emang pada dasarnya bagaikan bocah sd ngelawan anak SMK jurusan teknik bangunan. Pembantaian.

Obrolan mereka sebetulnya engga asik-asik amat, kerap kali Andri kebingungan dengan jawaban ngaco yang dilontarkan Bocah, aneh juga sih mereka bisa temenan, antara salah satu dari mereka menjual persahabatan mereka, atau emang membeli persahabatan mereka (artinya sama aja btw).Lanjut.

Sepeti biasa Bocah seringkali melontarkan ucapan-ucapan absurdnya yang seringkali bikin gue geleng-geleng kepala, padahal gue sendiri adalah orang yang absurd, namun gue merasa dia absurd.Banget.

Jika dibedakan dalam kasta maka kasta absurd gue berada di kasta yang lebih tinggi, entah dia yang terlalu pintar atau gue yang terlalu bego, tapi seringkali gue rasa jokes-jokes yang dia lontarkan terlampau garing, tapi pada akhirnya gue pun ikut tertawa kasihan, meskipun pada akhirnya tawa gue lebih terlihat mirip orang meringis kesakitan daripada bahagia mendengar jokes dia, memang itulah yang gue rasakan ketika dia becanda. Sakit. Banget.

Namun rutinitas kali ini adalah sebuah kenormalan biasa yang selalu gue syukuri kalo inget. Dengan datangnya Andri, maka bocah otomatis akan mencurahkan segala kekuatan dan kemampuan jokesnya yang nyaris engga ada kepada Andri, dan gue bisa menyelamatkan telinga dan otak gue dari kontaminasi virus yang bisa ngerusak semangat belajar gue buat hari itu, yang sebetulnya enggak semangat-semangat amat buat belajar juga. Memang jokesnya puka kekuatan destruktif menakutkan seperti itu.

Pernah suatu kali, ketika sedang asyik-asyiknya bermain PES, yang merupakan paket standar akan kostan ngumpul bareng temen, si bocah nyeletuk-nyeletuk jokes yang garingnya melebihi gurun sahara dan neraka. Adalah sebuah paketan = gue muak + gue ga mood ketika denger dia nyeletuk jokes soal adanya vampir di tim yang dia mainin, yaitu Barcelona, dan percayalah engga ada vampir beneran di tim ini dan dalam fantasi kecil dunianya mungkin ini adalah fakta paling fantastis dan komedis (?) dalam hidupnya. Singkat kata gue muak mendengar jokes dia yang basi banget. dan mengutuk setiap detik waktu gue yang terbuang mencoba untuk tertawa ‘meringis’ karena gue gamau melukai hatinya, setidaknya nanti pake cara yang lebih kejam.

Namun rasanya rutinitas ampas layaknya pas maen PES atau pas ngumpul di kelas kaya gitulah yang paling akan gue kenang, karena di tempat kerja nanti ga akan ada bocah dan gak akan ada lagi orang yang becandaanya garing. Semoga.

-Mahasiswa yang sebisa mungkin engga ngobrol sama bocah karena pengen harinya lebih baik.

Advertisements

2 thoughts on “Rutinitas Ampas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s