Sebuah Pengharapan

Tulisan kali didekasikan kepada semua ibu yang tiada lelah berjuang memberikan yang terbaik kepada buah hatinya, dalam segala upaya yang terpikirkan kita selalu berhutang padanya.

Ibu adalah orang yang selalu ingin memberikan yang terbaik pada anak-anaknya, yang terkadang mereka lebih mementingkan kebutuhan dan keinginan anaknya daripada kebutuhan dasar bagi dirinya sendiri sekalipun.

Ungkapan seperti itu sepertinya layak untuk disematkan kepada ibuku juga, tidak jauh berbeda dengan orangtua lainnya dia selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik kepadaku anaknya, yang kadang malah tidak bisa memberikan yang terbaik juga untuknya.

Jika boleh berkata keluarga kami mungkin layaknya keluarga ‘impian’ yang selalu ditampilkan di layar kaca hanya beranggotakan bapak, ibu dan anak laki-laki serta perempuan sebagai adiknya. Keluarga kami pun termasuk orang-orang yang beruntung karena kami berkecukupan, walaupun kadang hidup tidak selalu tawa dan bahagia, setidaknya kami selalu bersama dalam suka maupun duka.

Aku merupakan anak tertua di keluarga kami dan seorang laki-laki diatas itu semua, namun terkadang aku pun menyadari dalam beberapa hal kadangkala tindakan yang kulakukan tidak mencerminkan kedewasaan yang seharusnya, mungkin karena background masa kecilku yang notabene nya ‘anak manja’ dimana saat itu kebutuhan hidup serba tercukupi termasuk kebutuhan yang berlebihnya.

Namun dikala sedang berkecukupan pun ibu selalu mengajarkanku untuk lebih dewasa dan mandiri dalam menjalani hidup ini, kami tidak mempekerjakan asisten rumah tangga, jadi semuanya serba sendiri mulai dari masak, mencuci, dan membersihkan rumah. Sebuah rutinitas yang kala itu sangat kubenci, apalagi mencuci.

Mencuci adalah sebuah kegiatan yang lebih seperti ‘hukuman’ bagiku, kami hanya memiliki satu unit mesin cuci yang entah dari kapan sudah ada di rumah, mesin cuci itu mungkin peninggalan dari kakekku atau buyutku, pokoknya yang kutahu mesin cuci itu lebih tua dariku.

Seperti manusia yang semakin bertambah usia semakin terbatas pula kemampuan diri dan kinerjanya, begitu pula dengan mesin cuci tua yang menempati sudut rumah yang gelap dan lembab. Kadang kala mesin itu hanya bisa mencuci tanpa membuang air dan hasilnya aku mesti mencucinya lagi secara manual karena busanya masih tersisa, lain waktu airnya tersebut merembes keluar karena getaran mesinnya terlalu kencang dan akupun mesti mengelap daerah sekitar mesinnya karena basah, atau kala lain dimana mesin itu berhenti bergerak dan kami mesti ‘libur’ mencuci untuk minggu itu karena mesinnya harus diservis ke tukang reparasi.

Memang tidak jarang kami harus kesusahan oleh alat yang gunanya sebetulnya untuk meringankan kesusahan tadi, kesusaha-kesusahan yang ditimbulkan tidak jarang juga menimbulkan pertanyaan dan pernyataan dariku kepada ibu atas alasan mengapa masih mau menggunakan mesin cuci seperti itu yang seringkali malah menyusahkan dan menghambat aktivitas kami. Namun ibu akan tetap bersikukuh bahwa mesin cuci itu penting dan selama masih bekerja mengapa mesti repot-repot menambah pengeluaran dengan membeli barang lain yang fungsinya tidak jauh berbeda, begitulah argumen ibuu setiap aku mengungkit-ngungkit masalah mesin cuci itu, namun ada alasan lain yang lebih mendalam dan baru aku ketahui saat beranjak dewasa.

Semenjak beranjak dewasa hal-hal ‘kecil’ yang ibu lakukan selalu kembali dalam ingatanku namun dengan memberi arti yang berbeda seperti misalnya dalam kejadian mesin cuci tadi, setiap uang tambahan yang ibu dan ayah dapatkan dari kerja selalu mereka sisihkan untuk kebutuhanku di masa mendatang, dan memang terbukti saat aku menempuh studi kuliahku dan adikku mulai masuk sekolah kami dapat lebih mudah mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan finansial. Memang jika dibandingkan dengan yang dulu keadaan kami jauh berbeda dan dulu mengeluarkan uang untuk membeli mesin cuci yang baru tidak akan menjadi suatu masalah, namun bagiku tidak terlalu masalah karena yang utama adalah kesehatan dan kebersamaan bagi keluarga kami yang syukurlah masih ada terjaga.

Terkadang kita selalu terfokus terhadap apa yang kita mau bukannya apa yang kita miliki sekarang dan inilah yang menyebabkan kita jarang bersyukur atas kenikmatan yang kita rasakan hari ini dan cenderung meminta nikmat yang lebih daripada apa yang bisa kita terima sekarang, hal itulah yang aku pelajari dari peristiwa kecil tentang ‘mesin cuci tua’ yang akan selalu kuingat jika menceritakan tentang masa kecilku.

Aku yang sekarang tidak akan meminta hal yang ‘tidak-tidak’ seperti mengganti mesin cuci tua tadi karena memang selain kami tidak dalam kapasitas untuk menggantinya dan karena ada kebutuhan lain yang harus kita hadapi bersama-sama.

Namun terkadang jauh dilubuk hati ingin pula kuistirahatkan mesin cuci tua tersebut dan menggantinya dengan yang lebih praktis untuk membantu ibu yang sudah sudah beranjak tua jua.Itulah yang kupikirkan sembari menghitung uang yang ada dan melihat-lihat katalog yang ada.

16229964_B(1).jpg

Ilustrasi mesin cuci, walau gambarnya agak kebagusan :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s