PRabu: It’s Time for the Abu to Unite

Kali ini gue bakal ngebahas satu isu paling hot, paling aktual, paling bermutu (engga juga sih) tentang salah satu fenomena kasus yang ada di kampus gue, adalah PRabu yang merupakan singkatan PR & Abu, karena PR itu abu-abu (bukan PR dan babu ya, anda sudah diperingatkan!)

PRabu adalah sekumpulan manusia-manusia haus cinta pengalaman dan patut untuk dikasih jempol (dan dikasihani), mengapa ? karena mereka adalah sekumpulan orang-orang tersisihkan (layaknya receh alfamart) yang mampu membuktikan bahwa diri mereka adalah orang-orang tanggung tangguh yang selalu berusaha lagi (walaupun kalah mulu), semangat inilah kawanku yang patut kalian tiru (kecuali bagian kalahnya). Next.

Alkisah diceritakan dua onggok manusia absurd yang kerjanya sehari-hari adalah kuliah pulang, pulang kuliah, ketika selesai rutinitas kelas mereka akan terburu-buru untuk meninggalkan ruangan karena tidak ingin bergaul dengan manusia-manusia lainnya di kelas, apalagi yang punya bisnis lele dan satu lagi yang bercita-cita jadi pemain bola tapi gapernah jadi pemain inti skuad bolanya, ya mungkin belum rezekinya jadi pemain inti.. selama 3 tahun kuliah ini.

Kehidupan sedih mereka lalu dihinggapi oleh seonggok manusia lagi yang paling kere kece dan paling ganteng diantara mereka (kegantengan lebih tepatnya), kenapa dia paling kece? bukan. bukan karena punya gaya kece atau punya prestasi mentereng (mungkin tepatnya menterong karena tumpul semua). Dia dianggap lebih kece karena merupakan orang paling aktif diantara gue dan temen gue dikelas, kontribusinya banyak dan jelas ga diragukan lagi kalo dia adalah bahan bullyan terbesar di angkatan gue.

Berawal dari ajakan mas terong (yang kece dunya aherat) maka para “abu” pun berkumpul dan bergabung menjadi tidak berguna, lalu lahirlah PRabu.

Ceritanya engga keren sih, mungkin faktor orang-orangya yang ga keren juga, udah gitu jomblo pula. Tapi kalo minat silahkan tinggal pesan dibawah, buruan sebelum kena musim puasa dan akhirnya barangnya didiskon lebih murah lagi. Kapan lagi beli barang bekas harga teratas?

-Mahasiswa, bingung euy captionnya

Waktu Adalah Kamu

Waktu adalah uang, uang adalah raja, raja adalah singa, singa adalah sangu, sangu adalah kenyang, kenyang adalah cinta, cinta adalah kamu. Cocokologi yang sangat tidak cocok bukan ? sama layaknya gue dengan stereotipe gercep.

Sebagai orang-orang yang diberkahi dengan kesuburan (Baca: Gembrot), gue banyak dianggap sebagai orang yang pemalas, dan ini memang sebuah fakta kebohongan belaka.

Gue banyak berolahraga, setidaknya berjalan-jalan, entah itu di Facebook atau di web lainnya. Engga. Serius. Gue seringkali menempuh usaha yang ekstra ketika ada meeting atau rapat-rapat (yang engga terlalu rapat ?) dengan cara berjalan kaki, kegiatan jalan kaki itu menjadi lebih intens apalagi kalo diakhir bulan. Alasannya klasik karena bokek  ingin sehat.

Setiap kali gue berjalan kaki, gue selalu mencoba untuk berjalan lebih cepat dari orang yang berjalan didepan gue, kebanyakan ngerasa risih dan aneh sih ketika gue berjalan buru-buru mencoba untuk mengejar mereka, tapi kadang ada beberapa yang ga kalah kompetitif dan malah jadi balapan bareng gue mungkin ini yang namanya jodoh.

Namun diantara nikmatnya rutinitas memompa adrenalin (Baca: Jalan kaki) ada satu hal yang gue benci dari olahraga ini, yaitu ketika elu lagi enak-enaknya jalan dan tetiba ada dua orang didepan lu yang lagi ngobrol dan saat itu kalian sedang ada di gang. Disitulah segala umpatan, iri dengki akan kalian pikirkan dalam pikiran namun gabisa dikeluarin, apalagi kalo dua orang itu pacaran, kelar deh idup lu.

Bukan.. bukan karena gue jomblo dan gue ngiri, tapi karena kegiatan mereka gue rasa sangat mengganggu kehidupan alam semesta ini, mereka menyalahi garis kodrat yang sudah diguratkan ilahi, apalagi garis innalillahi (Ga nyambung bodo amat). Kegiatan berbincang-bincang dua alay  sejoli tadi bisa menimbulkan kecemburuan sosial sama orang-orang seperti gue, hal inilah mungkin salah satu faktor utama jurang pemisah kesenjangan sosial Indonesia yang semakin melebar layaknya aku dan kamu (So imut setan).

Engga. Serius. Kegiatan ngobrol sambil jalan ditempat sempit sangat-sangat merugikan orang lain, apalagi di zaman millenials ini dimana semua makin canggih kecuali elu. bayangkan jika diakumulasikan dalam sehari, berapa juta jam (sehari berapa juta jam ??) waktu yang akan dihemat dari kegiatan ngobrol ditempat selain pas jalan ini, dengan upaya tersebut mungkin pemanasan global dapat dicegah dan fenomena mama minta pulsa pas lagi dipenjara dan pake HP pak polisi (Ajaib euy) bisa kita antisisapi antisipasi.

Gila ya ide gue, free jiplak nih barangkali ada yang minat ikutan PKM atau lomba-lomba kreatif mahasiswa (yang engga kreatif-kreatif amat karena kreatif itu milik-Nya semata)

-Mahasiswa dengan sejuta ide gila, yang walaupun ga ngide tetep aja disebut gila (emang dari pabriknya)

Blak Tuk

Blak tuk adalah suatu bunyi yang timbul dari dipukulnya alat musik yang bernama kendang, bukan yang nyayi dangdut ya. Tapi blog ini gabakal ngebahas alat-alat musik dangdut maupun alat musik di Indonesia karena blog ini bukanlah buku LKS 11 ribuan yang isinya informasi comotan gugel semua, bukan.. blog ini lebih ga berguna dibanding buku LKS entu.

Jadi kali ini gue pengen cerita tentang lika-liku anak kampung yang pertama kali ke kampus kuning (Baca: UI) yang sebenernya gada unsur kuning sedikitpun di bangunan kampusnya (mungkin di toilet ada). Dan saat ini anda akan tersadar bahwa judul diatas tidak ada kaitannya sama sekali dengan konten yang saya tulis tapi ga apa udah terlanjur baca dan udah terlanjut kepo, jadi next.

Hidup di kampung jelas-jelas beda di kota, meski gue nginep di tempat yang disebut Rumah Susun (Pake ‘n’) bagi gue itu bagaikan Hotel bintang lima, kenapa bintang lima ? soalnya bintang tujuh obat pusing. Oke. Lanjut.

Rusun itu dilengkapi dengan lift yang setiap gue masuk pasti penuh terus dan dipenuhi bebauan aneh, mungkin itu bau gue tapi engga apa soalnya semua orang wajar dengan suasana lift yang sesak dan gue aman dari yang namanya krisis kepercayaan diri. Krisis kepercayaan diri berbeda dengan krisis manajemen apalagi time krisis yang dimaenin di arena bermain anak-anak dan bapak-ibu generasi milenials (Baca: Temjon).

Salah satu penyakit yang sering menimpa kawula muda penaik lift adalah kepanasan, hal ini terjadi karena sirkulasi udara yang minim didalam lift ditambah lagi dengan diri kawula sendiri yang lupa mandi sering ninggal sikat gigi dan kurang berprestasi(?) ditambah lagi dengan orang lain yang sibuk sendiri dan AC kecil lift yang sering mati (Udh kaya Rap… ) Singkat kata yang ga singkat-singkat amat, gue mengalami fenomena kepanasan itu, dimana saat menaiki lift menuju lantai 18 yang memang teratas dan sialnya kamar gue ada disitu, gue cuma bisa memininamilisir gerakan, nafas, dan kentut tidak tertahan ini, karena perlahan namun pasti, gue menuju surga di lantai 18 nanti.

Namun sialnya orang-orang banyak banget yang ikut, mereka gasadar akan diri mereka yang udah mah belum mandi, juga berisik dan ngabisin oksigen di lift, orang-orang begini rasanya pengen gue tinggal di lift tapi gabisa karena mereka turun duluan.

Dan sekarang kalian pada kesel karena daritadi gue cuma bahas lift bolak-balik dan menit serta kuota kalian terbuang sia-sia, engga apa setidaknya hal ini masih mending daripada ngomongin orang bareng tetangga atau teman kostan apalagi kalo ngomongin orangnya sama orangnya (ini mah bego). Udah sekian dulu karena penulis mah bebas yang punya konten, da ga dibayar juga. (eleuh baper). Tos ah capek.

-Mahasiswa

.

.

.

.

Iya masih mahasiswa