Blak Tuk

Blak tuk adalah suatu bunyi yang timbul dari dipukulnya alat musik yang bernama kendang, bukan yang nyayi dangdut ya. Tapi blog ini gabakal ngebahas alat-alat musik dangdut maupun alat musik di Indonesia karena blog ini bukanlah buku LKS 11 ribuan yang isinya informasi comotan gugel semua, bukan.. blog ini lebih ga berguna dibanding buku LKS entu.

Jadi kali ini gue pengen cerita tentang lika-liku anak kampung yang pertama kali ke kampus kuning (Baca: UI) yang sebenernya gada unsur kuning sedikitpun di bangunan kampusnya (mungkin di toilet ada). Dan saat ini anda akan tersadar bahwa judul diatas tidak ada kaitannya sama sekali dengan konten yang saya tulis tapi ga apa udah terlanjur baca dan udah terlanjut kepo, jadi next.

Hidup di kampung jelas-jelas beda di kota, meski gue nginep di tempat yang disebut Rumah Susun (Pake ‘n’) bagi gue itu bagaikan Hotel bintang lima, kenapa bintang lima ? soalnya bintang tujuh obat pusing. Oke. Lanjut.

Rusun itu dilengkapi dengan lift yang setiap gue masuk pasti penuh terus dan dipenuhi bebauan aneh, mungkin itu bau gue tapi engga apa soalnya semua orang wajar dengan suasana lift yang sesak dan gue aman dari yang namanya krisis kepercayaan diri. Krisis kepercayaan diri berbeda dengan krisis manajemen apalagi time krisis yang dimaenin di arena bermain anak-anak dan bapak-ibu generasi milenials (Baca: Temjon).

Salah satu penyakit yang sering menimpa kawula muda penaik lift adalah kepanasan, hal ini terjadi karena sirkulasi udara yang minim didalam lift ditambah lagi dengan diri kawula sendiri yang lupa mandi sering ninggal sikat gigi dan kurang berprestasi(?) ditambah lagi dengan orang lain yang sibuk sendiri dan AC kecil lift yang sering mati (Udh kaya Rap… ) Singkat kata yang ga singkat-singkat amat, gue mengalami fenomena kepanasan itu, dimana saat menaiki lift menuju lantai 18 yang memang teratas dan sialnya kamar gue ada disitu, gue cuma bisa memininamilisir gerakan, nafas, dan kentut tidak tertahan ini, karena perlahan namun pasti, gue menuju surga di lantai 18 nanti.

Namun sialnya orang-orang banyak banget yang ikut, mereka gasadar akan diri mereka yang udah mah belum mandi, juga berisik dan ngabisin oksigen di lift, orang-orang begini rasanya pengen gue tinggal di lift tapi gabisa karena mereka turun duluan.

Dan sekarang kalian pada kesel karena daritadi gue cuma bahas lift bolak-balik dan menit serta kuota kalian terbuang sia-sia, engga apa setidaknya hal ini masih mending daripada ngomongin orang bareng tetangga atau teman kostan apalagi kalo ngomongin orangnya sama orangnya (ini mah bego). Udah sekian dulu karena penulis mah bebas yang punya konten, da ga dibayar juga. (eleuh baper). Tos ah capek.

-Mahasiswa

.

.

.

.

Iya masih mahasiswa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s